Sukamiskin merupakan nama daerah yang terletak di kawasan Bandung Timur. Penamaan Sukamiskin diambil dari bahasa Arab yaitu Suq (سوق) dan Misk (مسك). Suq adalah pasar dan Misk berarti minyak wangi. Jadi kata Suq Misk bisa diartikan dengan “Pasar Minyak Wangi”.
Nama Suq Misk diberi nama oleh pendirinya langsung yaitu KH. R. Muhammad bin KH. R. Alqo. Pada saat itu pesantren merupakan pusat pendidikan pertama di Kota Bandung yang banyak didatangi orang yang akan menuntut ilmu pengetahun, khususnya di bidang agama. Banyaknya orang yang datang untuk menuntut ilmu sehingga pesantren diibaratkan seperti sebuah pasar yang banyak dikunjungi pembelinya. Setelah selesai menimba ilmu, mereka mengembangkan ilmu yang telah mereka peroleh di kampungnya masing-masing, sehingga ilmu itu seperti minyak wangi yang harum dan semerbak kemana-mana.
Seiring berjalannya waktu, timbul kesukaran dari orang Sunda untuk menyebut Suq Misk. Sehingga, sedikit demi sedikit kata Suq Misk berubah jadi Sukamiskin. Karena kata Sukamiskin lebih mudah diucapkan dari pada Suq Misk.
Pondok Pesantren Sukamiskin didirikan oleh KH. Raden Muhammad bin Alqo pada tahun 1881 M. KH. R. Muhammad Alqo selama kurang lebih 29 tahun yakni dari tahun 1881 M sampai dengan 1910 M atau tahun 1300 H sampai dengan 1329 H. Setelah wafat, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh putranya yakni KH. R. Ahmad Dimyati, atau yang terkenal dengan sebutan Mama Gedong, bersama saudaranya, K.H. R. Muhammad Chalil.
Pada saat perang kemerdekaan, daerah Sukamiskin digunakan sebagai basis pertahanan perlawanan terhadap penjajah. Tahun 1941, Jepang menjatuhkan bom di Sukamiskin. Akibatnya beberapa bangunan hancur lebur. Karena kondisi inilah, maka pada tahun 1946, KH. R. Ahmad Dimyati mengungsi ke daerah Pacet. Pada tanggal 16 Shafar 1367 H. bertepatan 1946 M., KH. R. Ahmad Dimyati meninggal dunia dan dimakamkan di Kampung Ciseureuh Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung dalam usia 63 tahun.
Setelah KH. R. Ahmad Dimyati wafat, Pondok Pesantren mengalami stagnasi karena terhambat dengan adanya peperangan pasca kemerdekaan Indonesia. Dua tahun berikutnya, putra beliau yaitu KH. R. Haedar Dimyati mulai merintis kembali dengan dibantu oleh KH. R. Sofwan dan berhasil memulihkan kembali seperti keadaan semula.
KH. R. Haedar Dimyati meninggal dunia pada tahun 1966 dalam usia 40 tahun. Sepeninggalnya, pimpinan Pondok Pesantren dipegang langsung oleh istrinya Hj. R. Siti Romlah binti KH. R. Muhammad Burhan. Setelah Hj. R. Siti Romlah meninggal dunia, pesantren dilanjutkan oleh menantunya yaitu KH. Imam Shonhaji. Pada tahun 2009, KH. R. Iman Sonhaji meninggal dunia, kepemimpinan Pondok Pesantren beralih kepada KH. R. Abdul Aziz Haedar sampai saat ini.
Pesantren sukamiskin menyelenggarakan pendidikan formal tingkat Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah (MA). Dengan demikian, sampai saat ini, sistem pendidikan di pondok pesantren Sukamiskin memadukan pendidikan salafi dan khalafi.
Saat ini, Pondok Pesantren Sukamiskin Bandung menjadi salah satu pesantren ternama di Kota Bandung dan bahkan di Jawa Barat. Pesantren ini menjadi tempat belajar bagi ratusan santri dari berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu, pesantren ini juga menghasilkan banyak alumni yang telah sukses di berbagai bidang.