6 Jun 2023 | Berita
Sebanyak 125 siswa sekaligus santri Madrasah Aliyah Swasta Yayasan Pondok Pesantren Sukamiskin (MAS YPPS) mengikuti Kegiatan Lomba dan Pelatihan Kompetensi Siswa selama seminggu sejak Senin sampai Sabtu (5-10) Juni 2023.
Rangkaian kegiatan itu bertempat di komplek Pesantren Sukamiskin, Jalan Pesantren, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, Jawa Barat. Kegiatan diawali dengan pelatihan dasar jurnalistik dan pengenalan hukum di Indonesia, yang bertajuk ‘Literasi Jurnalistik’ dan ‘Hukum di Indonesia’.

Kepala MAS YPP Sukamiskin, Rd. Alfi Muhammad Toyyib, SMB, mengatakan, pihaknya menyelenggarakan Kegiatan Lomba dan Pelatihan Kompetensi Siswa tersebut bertujuan untuk membekali pengetahuan serta keterampilan yang pastinya akan berguna untuk kehidupan mereka kelak.
Sebagai institusi pendidikan, kata Alfi, tidak saja bertanggung jawab memberikan ilmu agama, pengetahuan umum maupun pembentukan karakter mereka melalui pelajaran di dalam kelas, tetapi juga dituntut untuk memberikan stimulasi keterampilan di luar mata pelajaran.
Baca juga: Imtihan Ke-106 Meriahkan Sukamiskin

“Agar para siswa ini mempunyai skill atau keterampilan tertentu agar kehidupan mereka nanti lebih produktif melalui kegiatan di luar mata pelajaran dengan menghadirkan para praktisi yang berkompeten di bidangnya,” ungkap Kepala Sekolah MAS YPPS yang sering disapa Kang Alfi.
Kegiatan Lomba dan Pelatihan Kompetensi Siswa MAS YPPS ini, jelas dia, diisi beragam materi dengan rincian lima kategori pelatihan kompetensi dan enam kategori lomba.

Selain Literasi Jurnalistik dan Hukum di Indonesia, kategori pelatihan lainnya adalah Pemulasaraan Mayit dan Teori Manasik Haji; Pengenalan Zakat dan Perbankan Syariah; Komputerisasi Internetworking dan Administrasi Perkantoran.
Baca juga: Anugerah Satu Abad NU, Pesantren Sukamiskin Dapat Penghargaan Pesantren Tertua

Sedangkan kegiatan lomba terdiri dari Lomba Hiburan (PS3, Mobile Legend, dan Carambol); Lomba Makeup; Menjahit; Lomba Hiburan Lanjutan dan diakhiri dengan penyerahan hadiah.

“Ketika seorang siswa menjadi sumberdaya manusia yang berkompeten, apapun skill yang dikuasainya tentu akan menjadi kebanggaan bagi orang tua, kebanggaan bagi kami sebagai pendidik di sekolah dan pesantren, termasuk juga masyarakat tentunya,” kata Kang Alfi.

Ia menambahkan, para siswa sekaligus juga santri di MAS YPP Sukamiskin mendapatkan materi pelajaran sekolah dan juga ilmu agama. Secara kelembagaan MAS YPP Sukamiskin berada di bawah naungan Kementerian Agama dengan akreditasi A, berdasarkan sertifikat 02.00/203/SK/BAN-SM/XII/2018.
Para siswa Madrasah Aliyah Yayasan Pondok Pesantren Sukamiskin yang mengikuti kegiatan tersebut tampak antusias. Mereka banyak melontarkan pertanyaan kepada para mentor terkait materi pelatihan yang diberikan.
Berita Terkait
Bagikan:
3 Jun 2023 | Artikel
Pesantren, lembaga pendidikan agama Islam tradisional, telah menjadi pilar penting dan landasan kuat dalam membangun peradaban bangsa Indonesia. Sejak berabad-abad yang lalu, pesantren telah berperan penting dalam membangun karakter, pengetahuan, dan moralitas generasi-generasi Muslim di tanah air. Peran pesantren tidak hanya terbatas pada pendidikan agama, tetapi juga mencakup aspek sosial, budaya, dan ekonomi. Pesantren secara konsisten membantu membangun peradaban yang berkelanjutan di Indonesia.
Salah satu peran utama pesantren adalah menjaga keutuhan dan keberlanjutan tradisi agama Islam. Dalam lingkungan pesantren, para santri (penghuni pesantren) diberikan pengajaran agama yang komprehensif, termasuk mempelajari Al-Qur’an, tafsir, hadis, fiqh (hukum Islam), dan aqidah (keyakinan Islam). Hal ini membantu menciptakan pemahaman yang mendalam dan kuat terhadap nilai-nilai Islam yang mendasar. Pesantren juga menjadi tempat bagi pengembangan keilmuan Islam, seperti studi filsafat, bahasa Arab, dan ilmu pengetahuan sosial.
Selain pendidikan agama, pesantren juga berperan dalam membentuk karakter dan moralitas individu. Melalui pendidikan yang dijalani di pesantren, para santri diajarkan tentang nilai-nilai seperti kesederhanaan, kejujuran, ketekunan, dan rasa tanggung jawab. Mereka diberikan pelajaran untuk hidup secara mandiri, saling menghormati, dan berkontribusi secara positif terhadap masyarakat. Pesantren menjadikan pembentukan karakter sebagai inti dari pendidikan mereka, menghasilkan generasi yang berakhlak mulia dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi.
Baca juga: Pentingnya Mondok di Pesantren
Pesantren juga berperan dalam melestarikan budaya lokal dan mempromosikan kearifan lokal. Banyak pesantren yang terletak di daerah pedesaan atau pinggiran kota, di mana mereka tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga pusat kegiatan sosial dan budaya. Pesantren sering mengadakan acara budaya seperti seni pertunjukan tradisional, pentas seni, dan diskusi ilmiah yang mendorong pemahaman dan apresiasi terhadap budaya Indonesia. Pesantren juga berperan dalam mempromosikan kesenian tradisional, kerajinan tangan, dan industri lokal sebagai upaya untuk mengembangkan ekonomi masyarakat sekitar.
Di era modern ini, pesantren telah beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tuntutan zaman. Banyak pesantren yang menyediakan pendidikan formal, seperti pendidikan dasar, menengah, dan bahkan perguruan tinggi. Mereka juga mengintegrasikan pembelajaran agama dengan ilmu pengetahuan umum, seperti matematika, sains, dan teknologi informasi. Dengan demikian, pesantren tidak hanya mempersiapkan para santri menjadi ahli agama, tetapi juga memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia modern.
Dalam rangka membangun peradaban yang maju dan berkelanjutan, peran pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pusat kegiatan sosial sangatlah penting. Pesantren terus berupaya untuk menghasilkan generasi yang terdidik, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab. Mereka membantu menjaga keutuhan nilai-nilai agama, mempromosikan budaya lokal, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat. Pesantren adalah pilar penting dalam membangun peradaban di Indonesia, menerangi jalan menuju masa depan yang lebih baik.
30 Mei 2023 | Ubudiyah
Calon jamaah haji manapun tentu menginginkan derajat haji mabrur. Sementara tiada balasan mabrur kecuali surga. Dilansir dari nu.or.id, menurut Imam Al-Ghazali setidaknya ada 10 etika yang harus diperhatikan oleh jamaah calon haji yang menginginkan derajat tersebut. Namun tujuh (7) yang relevan dikemukakan di sini, yaitu sebagai berikut:
Pertama, berawal dari cita-cita dan tujuan mulia menunaikan ibadah haji. Tujuan dan cita-citanya harus fokus kepada Allah. Hatinya harus tenang dan diarahkan untuk selalu berdzikir mengingat Allah, serta mengagungkan syiar-syiar-Nya. Tangan dan pikirannya harus bebas dari apa pun yang mengganggu hati dan memecah konsentrasi cita-citanya. Kemudian, biaya yang dipakainya juga harus bersumber dari usaha yang baik dan halal. (Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, [Beirut: Darul-Ma’rifah], juz I, halaman 262).
Ibnu ‘Umar pernah menyatakan, “Di antara ciri orang yang mulia adalah orang yang paling baik perjalanan ibadah hajinya; dan di antara ibadah haji seseorang yang paling utama adalah yang paling tulus niatnya, paling bersih biayanya, dan paling baik keyakinannya.” Peringatan Imam Al-Ghazali ini cukup beralasan mengingat Rasulullah saw. pernah bersabda:
إِذَا كَانَ آخِرُ الزَّمَانِ خَرَجَ النَّاسُ إِلَى الْحَجِّ أَرْبَعَةُ أَصْنَافٍ سَلَاطِيْنُهُمْ لِلنُّزْهَةِ وَأَغْنِيَاؤُهُمْ لِلتِّجَارَةِ وَفُقَرَاؤُهُمْ لِلْمَسْأَلَةِ وَقُرَّاؤُهُمْ لِلسُّمْعَةِ
Artinya, “Pada akhir zaman, orang-orang keluar untuk haji empat golongan: para penguasa untuk bersenang-senang, para hartawan untuk berdagang, orang-orang fakir untuk meminta-minta, dan para qari untuk memperdengarkan bacan.” (HR Al-Khatib).
Baca Juga: Keutamaan Puasa Syawal Menurut Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali
Dengan kata lain, seorang jamaah calon haji yang berangkat ke Tanah Suci harus berusaha semaksimal mungkin menjauhkan tujuan-tujuan duniawai demi meraih keutamaan ibadah haji dan derajat haji yang istimewa. Kendati dirinya bertugas menjalankan ibadah haji orang lain, maka niatkan membantu dan memudahkan sesama muslim menggugurkan kewajibannya. Jika harus mengambil upah, ambillah upah itu sebatas untuk memungkinkan dirinya menjalankan kebutuhan ibadah haji. Kaitan dengan wasiat untuk dihajikan, syariat memandangnya sebagai hal yang istimewa sebagaimana yang pernah disampaikan Rasulullah saw:
يُدْخِلُ اللهُ سُبْحَانَهُ بِالحَجَّةِ الْوَاحِدَةِ ثَلَاثَةً اَلْجَنَّةَ اَلْمُوَصِّي بِهَا وَالْمُنْفِذُ لَهَا وَمَنْ حَجَّ بِهَا عَنْ أَخِيْهِ
Artinya, “Allah akan memasukkan tiga golongan ke surga dengan sekali haji: orang yang meninggalkan wasiat untuk dihajikan, orang yang menjalankan wasiat itu, dan orang yang berhaji untuk saudaranya,” (HR Al-Baihaqi).
Kedua, mempersiapkan bekal secukupnya dan memperbaiki hati dalam memberikan dan membelanjakannya tanpa disertai kekikiran dan sikap berlebihan. Pergunakanlah perbekalan secara sederhana. Namun, hindari pula perilaku bersenang-senang dan makan makanan yang enak-enak atau bermewah-mewahan dalam berpakaian. Sementara banyak memberi dan berbagai rezeki, menurut Al-Ghazali, tidak termasuk sikap berlebihan. Menurutnya, menggunakan bekal untuk perjalanan haji sama dengan menginfakkannya di jalan Allah. Sementara satu dirham yang diinfakkan di jalan Allah dibalas dengan tujuh ratus dirham.
Ketiga, meninggalkan ar-rafats, al-fusuq dan al-jadal, sebagaimana yang dibicarakan Al-Qur’an. Kata al-rafats merupakan kata umum yang mencakup segala perkataan sia-sia, keji, dan kotor. Termasuk di dalamnya perbuatan bersenda gurau atau membicarakan hubungan suami-istri. Sementara membicarakan hubungan suami-istri merupakan perbuatan yang dilarang karena mendorong kepada hal terlarang. Perkara yang memicu kepada hal yang dilarang adalah dilarang. Sementara kata al-fusuq merupakan kata umum yang mencakup semua keadaan yang keluar dari ketaatan kepada Allah. Kemudian, al-jadal adalah berlebihan dalam permusuhan dan pertengkaran dengan hal-hal yang dapat menyebabkan kedengkian dan perpecahan, serta meruntuhkan budi pekerti yang baik.
Sufyan As-Tsauri menuturkan, “Siapa saja yang melakukan ar-rafats, maka rusaklah hajinya.” Pantas jika Rasulullah saw. menjadikan tutur kata yang baik dan berbagi makanan sebagai kriteria haji yang mabrur. Sementara dalam sabda Rasulullah saw. disebutkan, tiada balasan haji yang mabrur kecuali surga.
اَلْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ
Artinya, “Haji mabrur itu tidak ada balasan untuknya selain surga.”
Walhasil, sepantasnya jamaah calon haji untuk mengurangi pembicaraan yang tidak penting, senda gurau, apalagi pertentangan dengan sesama jamaah. Justru selama di perjalanan menuju Baitullah, hendaknya merendahkan diri di hadapan mereka, dan menunjukkan perangai yang baik.
Keempat, sebaiknya menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki jika mampu melakukannya. Sebab, menjelang wafat, Abdullah ibn ‘Abbâs pernah berpesan kepada putranya, “Wahai anak-anakku, tunaikanlah haji dengan berjalan kaki. Karena orang yang berhaji dengan berjalan kaki, setiap langkahnya dihitung sebagai tujuh ratus kebaikan dari kebaikan Tanah Haram.” Namun, bagi jamaah calon haji asal Indonesia sepertinya hal ini tidak mungkin. Hanya saja masih bisa diusahakan di Tanah Suci saat menunaikan rangkaian manasik atau pulang-pergi dari Mekah ke tempat wukuf, terutama lagi saat ke Mina. Dan jika hendak ditambahkan, sunat pula berjalan setelah berihram. Bahkan, ada yang berpendapat bahwa hal itu merupakan salah satu cara menyempurnakan ibadah haji.
Kendati demikian, naik kendaraan saat menunaikan ibadah haji bukan pula termasuk hal yang tercela. Terlebih ada ulama yang mengatakan, “Naik kendaraan adalah lebih utama, karena di dalamnya ada nafkah dan biaya. Selain itu, naik kendaraan juga menjauhkan diri dari kelelahan, meminimalisir gangguan di perjalanan, lebih dekat kepada keselamatan, dan mendekatkan pada kesempurnaan ibadah haji.” Dua pendapat ini sama sekali tidak bertentangan. Siapa saja mudah berjalan kaki, maka lakukanlah dengan berjalan kaki dan itu adalah hal yang utama. Namun ketika tidak sanggup, dan bila dilaksanakan akan mengakibatkan resiko buruk, membatasi kesempatan amal ibadah, maka naik kendaraan adalah lebih baik.
Kelima, berpenampilan sederhana dan tidak banyak mengenakan perhiasan. Jauh dari kesan bermewah-mewahan dan memperlihatkan jabatan atau kekayaan, sehingga tidak tercatat sebagai orang yang sombong dan berlebihan. Tampillah sebagai golongan lemah, miskin-papa, dan butuh terhadap rahmat dan ampunan Allah. Rasulullah saw. telah memerintahkan agar jamaah calon haji senantiasa berpenampilan sederhana dan menyembunyikan kekayaan, serta melarang untuk bersenang-senang dan bermewah-mewahan. Demikian seagaimana hadis riwayat ath-Thabrani. Meski demikian, bukan berarti mereka boleh mengenakan pakaian compang-camping atau kotor. Sebab, Al-Quran sendiri memerintah mereka memersihkan diri:
ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ
Artinya, “Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran,” (QS Al-Hajj: 29).
Calon jamaah haji tetap berpenampilan layaknya akan menghadap Allah. Mereka tetap harus menjaga kebersihan dan kerapihan diri dengan cara mencukur rambut, memotong kumis, dan memotong kuku. Keenam, mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih hewan dam meskipun tidak wajib bagi dirinya. Usahakanlah agar hewan yang dikurbankan adalah hewan yang gemuk dan mulus. Makanlah sebagian dagingnya jika kurban itu sunat, namun jangan memakannya apabila kurbannya wajib. Allah swt. telah berfirman, “Demikianlah perintah Allah. Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati,” (QS Al-Hajj: 32).
Namun, yang diniatkan dalam kurban adalah membersihkan sifat-sifat kehewanan yang ada dalam diri, menjauhkan sifat kikir, meraih kesucian jiwa, serta memperindahnya dengan sifat-sifat terpuji. Lagi pula yang sampai pada Allah dalam berkuran bukan dagingnya, melainkan ketakwaannya, sebagimana firman-Nya, “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepadaNya adalah ketakwaan kamu,” (QS Al-Hajj: 37). Keutamaannya juga luar biasa, sebagaimana sabda Rasulullah saw:
مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ إِهْرَاقِهِ دَماً وَأَنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُوْنِهَا وَأَظْلَافِهَا وَإِنَّ الدَّمَ يَقَعُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ بِالْأَرْضِ فَطِيْبُوا بِهَا نَفْسًا
Artinya, “Tidak ada amal keturunan Adam yang paling disukai Allah pada hari raya kurban selain meneteskan darah hewan kurban. Sebab pada hari Kiamat, hewan itu akan datang dengan tanduk dan kukunya. Darahnya akan jatuh diterima Allah pada suatu tempat sebelum jatuh di tanah. Maka baik-baiklah kalian dengan berkurban,” (HR. at-Tirmidzi).
Ketujuh, senantiasa berbaik sangka pada Allah atas apa yang telah dilakukan dan diinfakkan. Begitu pula dengan kepayahan, kerugian, bahkan mungkin musibah yang telah menimpa, baik yang menimpa harta maupun badan. Ingatlah bahwa musibah adalah salah satu tanda diterima ibadah haji. Musibah saat haji sama dengan nafkah yang dikeluarkan di jalan Allah. Satu dirham sebanding dengan tujuh ratus dirham karena beratnya ujian di jalan jihad. (Al-Ghazali, I/265). Karena itu, dia berhak atas pahala dari kepayahan dan kerugian yang dialaminya. Pahalanya tidak akan hilang sedikit pun di sisi Allah. Namun, ada pula yang menambahkan, di antara tanda diterimanya ibadah haji adalah ditinggalkannya kemaksiatan yang dahulu biasa diperbuatnya. Saudara-saudaranya yang tidak baik diganti dengan saudara-saudara yang saleh. Tempat-tempat kelalaiannya diganti dengan majelis dzikir dan kesadaran. Wallahu a’lam.
30 Apr 2023 | Ubudiyah
Bagi sebagian kaum Muslimin, terkhusus mereka yang sanggup beribadah tanpa terikat keadaan, suasana Ramadhan masih membekas di hati-hati mereka, entah Ramadhan bersama Covid-19 maupun tidak, Ramadhan tahun ini mudik atau tidak. Semuanya sama saja, sama-sama mulia karena adanya bulan Ramadhan.
Ramadhan yang membekas di hati seorang Muslim akan melahirkan rasa sedih tatkala bulan suci tersebut hendak pamit. Kenikmatan ibadah di bulan Ramadhan adalah anugerah agung yang diberikan Allah SWT. Terutama puasa sebagai ibadah yang paling istimewa di bulan tersebut. Oleh karena itu, sebagian kaum muslimin akan melanjutkan puasa sehari setelah Idul Fitri, yaitu puasa enam hari di bulan Syawal.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun” (HR Muslim).
Dilansir dari nu.or.id, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan lima keutamaan yang kita dapatkan dari melaksanakan puasa sunnah di bulan Syawal dalam kitab Lathâif al-Ma’ârif fîma li Mawâsim al-‘Am min al-Wadhâif karya Ibnu Rajab al-Hanbali (Dar Ibn Hazm, cetakan pertama, 1424/2004, hal. 219-223). di antaranya adalah:
1. Puasa sunnah Syawal sebagai penyempurna puasa Ramadhan.
Untuk menyempurnakan shalat fardhu, kita dianjurkan melaksanakan shalat sunnah rawatib, yaitu qabliyah dan bakdiyah. Dengan melaksanakan shalat sunnah rawatib, maka shalat sunnah fardhu akan menjadi sempurna. Begitu pun puasa sunnah Syawal yang dapat menyempurnakan puasa Ramadhan.
Rasulullah SAW bersabda,
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ
“Amalan seorang hamba yang dihisab pertama kali di hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka sungguh dia beruntung dan selamat. Jika shalatnya buruk, maka sungguh dia celaka dan rugi. Jika ada kekurangan pada shalat wajibnya, Allah Ta’ala berfirman, ‘Periksalah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah yang dapat menyempurnakan kekurangan ibadah wajibnya?’ Kemudian yang demikian berlaku pada seluruh amal wajibnya” (HR at-Tirmidzi).
2. Menyempurnakan pahala puasa menjadi pahala puasa setahun.
Hal ini sebagaimana yang dijanjikan dalam hadits Rasulullah dalam kitab Shahih Muslim, “Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti pahala berpuasa setahun.”
3. Membiasakan puasa setelah selesainya puasa Ramadhan adalah tanda diterimanya puasa Ramadhan kita.
Sesungguhnya Allah Swt apabila menerima amal kebaikan seseorang, akan menganugerahi ia untuk berbuat kebaikan setelah itu. Sebagian ulama mengatakan:
ثواب الحسنة الحسنة بعدها فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة كان ذلك علامة رد الحسنة وعدم قبولها
Ganjaran perbuatan baik adalah perbuatan baik setelahnya, maka siapa saja yang berbuat kebaikan kemudian mengikutkannya dengan perbuatan baik lainnya maka hal yang demikian adalah tanda diterimanya kebaikan yang pertama, pun halnya orang yang berbuat baik kemudian mengikutkannya dengan perbuatan buruk maka yang demikian adalah tanda ditolaknya kebaikan yang ia kerjakan.
4. Puasa sunah Syawal sebagai tanda syukur kita kepada Allah subhanahu wata’ala.
Melaksanakan puasa sunnah di bulan syawal merupakan tanda syukur kita kepada Allah Swt atas anugerah yang melimpah di bulan Ramadhan berupa puasa, qiyamul lail (shalat malam), zakat dan lain-lain. Puasa di bulan Ramadhan sesungguhnya meniscayakan ampunan bagi orang yang menjalankannya, hal ini didasari dengan hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah ra:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ [وفي رواية]: مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah, maka dosanya yang lalu akan diampuni.” [dalam riwayat lain]: “Siapa saja yang menghidupkan malam hari bulan Ramadhan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah, maka dosanya yang lalu akan diampuni.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Karena ampunan ini lah patutnya kita bersyukur kepada Allah dengan melakukan ketaatan berupa puasa Syawal.
5. Ibadah yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan tidak terputus.
Dengan selesainya bulan suci Ramadhan, bukan berarti ibadah yang kita amalkan selesai sudah, namun hendaknya kita berusaha untuk mempertahankan kualitas dan kuantitas ibadah di bulan-bulan selanjutnya sebagaimana di bulan Ramadhan. Puasa Syawal dapat dikatakan adalah salah satu bentuk usaha yang dapat kita lakukan untuk melestarikan ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan.
Demikianlah keterangan mengenai keutamaan puasa di bulan Syawal, semoga kita diberikan taufik dan kemampuan untuk melestarikan ibadah yang kita lakukan di bulan suci Ramadhan, sehingga kita masuk kepada golongan orang-orang yang mendekat kepada Allah dengan perantara amalan-amalan sunnah sebagaimana dalam hadits qudsi:
وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ
Artinya: “Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku pun mencintainya.” (HR al-Bukhari).